A Thousand Years ( Sequel of Missing You in The Rain ) ON Thursday, 14 February 2013 AT 21:32
Title : A Thousand Years
Author : cherry_blossom a.k.a r13eonnie
Main Cast : Nichkhun Buck Horvejkul & Victoria Song…
Genre : Sad Romance, Angst
Rating : PG-13
Type : Ficlet
Lenght : 1.768 Words
Disclaimer : PLOT AND STORY IS MINE…
~ A Thousand Years ~
Dua tahun, aku fikir itu sudah cukup membuatku mampu melupakannya.
Tapi ternyata aku salah besar. Hingga kini aku masih tidak bisa
menghilangkannya dari fikiranku. Bahkan untuk sekedar bernafas tanpa
harus mengingatnya, aku tidak bisa. Ini pertama kalinya, aku mencintai
seseorang dan bisa membuatku benar-benar rapuh, serapuh-rapuhnya.
Mungkin terdengar sangat konyol bagi seorang pria sepertiku, karena aku
bisa lemah hanya karena seorang wanita. Tapi itulah kenyataan yang
justru tidak bisa aku pungkiri.
Dua tahun lalu aku meninggalkannya, aku membuatnya terluka. Aku tahu,
aku adalah pria terbodoh di dunia ini karena meninggalkan wanita sebaik
dia yang sangat mencintaiku dan aku cintai. Tapi seandainya kenyataan
itu tidak pernah ada, seandainya kenyataan itu bisa aku ubah menjadi
sebuah mimpi, mungkin saat itu aku tidak akan di sudutkan pada suatu
pilihan yang akhirnya membuatku harus meninggalkannya.
“Khun-ah”
“Appa? Kau sudah pulang?”
“Bisa kau duduk sebentar? Ada sesuatu yang ingin appa katakan padamu”
“Appa, kau ingin mengatakan apa? Wajahmu begitu serius, apakah ini
sesuatu yang sangat penting?” aku tidak bisa memungkiri hatiku yang
tiba-tiba berdegup kencang tidak wajar ketika appa berkata ingin
mengatakan sesuatu padaku.
Aku tahu itu pasti hal yang begitu serius, karena ini adalah pertama kali aku melihat appa seserius itu.
“Tapi sebelum appa mengatakannya, appa ingin meminta sesuatu padamu”
“Sesuatu? Apa itu?”
“Berjanjilah, setelah kau mendengar ini kau akan melakukan apa yang appa minta?” appa menatapku serius.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan appa. Entahlah degup
jantungku semakin tidak wajar dalam seketika. Aku mendapat firasat buruk
untuk itu.
“Apakah kau mau berjanji pada appa?” dia meyakinkanku dengan nada suaranya yang di buat lebih tenang.
“Baiklah, aku berjanji. Aku akan melakukan apapun yang appa minta”
jawabku setenang mungkin meski pada kenyataannya aku ragu apakah aku
benar-benar akan menepati janjiku nantinya.
“Baiklah, appa pegang janjimu” appa mendekat dan sekarang duduk tepat di sampingku.
“Khun-ah, kau ingat kan? Appa pernah mengatakan padamu, kalau appa sedang mencari adikmu yang hilang?”
“Ya aku ingat, appa”
“Appa sudah menemukannya”
“Benarkah? Nuguseyo? Di mana dia sekarang?”
“Dia…dia adalah orang yang kita kenal baik selama ini” suara appa melemah.
“Kita? Maksud appa, dia adalah orang yang kita kenal? Nugu?”
Appa terdiam dan menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaanku.
“Dia adalah Victoria”
Aku membeku dalam seketika, mencoba untuk mencerna kembali
kata-kata appa. Terutama nama yang baru saja appa sebut. Aku tahu nama
itu. Aku sangat mengenal nama itu. Bahkan nama itu sudah mendarah daging
di dalam hatiku. Tapi, apakah nama yang appa sebut tadi benar-benar
dia? Victoriaku?
“Khun-ah, maafkan appa. Tapi appa harus mengatakan ini padamu,
kekasihmu selama ini ternyata dia adalah…adik kandungmu sendiri” appa
meremas pundakku, mencoba untuk menguatkan aku. Dan mulutnya bergetar.
Aku menoleh perlahan ke arah appa. Menatap matanya lekat, mencoba
untuk mencari tahu kebenaran lewat kedua matanya. Hati kecilku sangat
berharap, appa hanya berbohong padaku. Tapi sialnya, aku tidak melihat
kebohongan di mata appa saat ini.
“Maafkan appa” dia tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam.
Yang aku lihat saat ini justru rasa bersalah yang mendalam dalam dirinya.
“Apakah kau yakin dia benar-benar orang yang kita cari, appa?”
“Bukalah amplop ini, maka kau akan percaya apakah appa sekarang ini sedang berbohong padamu atau tidak, nak”
Aku menatap amplop putih yang di genggam appa. Membukanya saja
pasti akan membuatku lemah, apalagi aku harus membaca isinya. Aku tidak
akan sanggup.
“Appa sudah melakukan tes DNA ini dua kali dan hasilnya tetap sama”
“Tapi kenapa appa baru mengatakannya padaku sekarang? Kenapa saat
appa akan melakukan tes DNA itu, appa tidak mengatakan padaku?”
“Karena jika appa mengatakannya lebih dulu padamu, kau tidak akan
percaya dan tidak akan mengijinkan appa untuk melakukannya. Jadi, appa
fikir sebaiknya appa melakukan tes DNA itu tanpa sepengetahuanmu”
“Appa juga sangat berharap bukan dia, oleh karena itu appa tidak mengatakannya dulu padamu. Tapi ternyata….”
“Appa”
“Ne…”
“Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi, aku mohon appa. Aku mohon” aku bersujud di hadapannya.
Appa tidak menjawab, dia hanya menangis dan memelukku.
“Kenapa harus dia appa? Kenapa harus Victoriaku? Kenapa bukan orang lain?”
Air mataku tidak bisa aku bendung lagi, pertahananku lumpuh. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan appa.
“Maafkan appa, nak. Maafkan appa”
***
Selama aku hidup, appa tidak pernah meminta sesuatu padaku.
Hanya di hari itulah dia akhirnya meminta sesuatu. Meminta aku untuk
melakukan sesuatu untuknya.
“Demi Victoria, appa mohon tinggalkan dia. Kita menghilang saja
dari kehidupannya. Appa tidak akan sanggup melihat kesedihannya jika dia
tahu tentang hal ini. Kita biarkan dia bahagia dengan kehidupan baru
yang akan dia jalani nanti. Kita jangan menganggu kehidupannya lagi”
Saat itu aku menolak keras permintaan appa, walau bagaimanapun aku rasa Victoria juga memiliki hak untuk tahu tentang hal itu. Tapi ada satu perkataan appa yang membuatku akhirnya berfikir dan menyetujui untuk memenuhi permintaannya.
“Sebenarnya selama kau menjalin hubungan dengan Victoria, appa
sering melihat kemiripan dari dirinya dengan eomma mu, nak. Dia
benar-benar mirip sekali dengan almarhum eomma mu. Kau tahu eomma mu
dulu meninggal karena bunuh diri. Karena dia tidak sanggup menahan sedih
kehilangan adikmu. Appa hanya takut, Victoria akan melakukan hal yang
sama seperti eomma mu. Lebih baik kita yang meninggalkan dia daripada
dia yang pergi meninggalkan kita. Kau mengerti maksud appa, kan?”
Memang tidak ada pilihan yang baik dari masalah ini, tapi mau tidak
mau aku harus mengambil keputusan yang mungkin itu jauh lebih baik.
Setidaknya, itu baik untuk Victoria. Appa benar, jika kami
memberitahu masalah ini padanya, dia pasti akan terguncang dan pergi
meninggalkan kami. Sama seperti apa yang di lakukan eomma. Jadi, keputusan yang aku ambil pada akhirnya adalah kami yang pergi meninggalkannya.
***
“Khun-ah?” aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang.
“Sepertinya aku kenal suaranya” gumamku.
“Khun-ah?” suara itu tepat berada di dekatku sekarang. “Akhirnya aku menemukanmu” orang itu menatapku nanar.
“Victoria” ucapku sesantai mungkin.
Tidak ada kata yang terucap setelah itu di antara kami, hanya kedua
pasang mata yang saling menatap yang menyembunyikan arti masing-masing
di baliknya.
“Beruntung Tuhan masih mempertemukan kita, sekarang aku ingin menagih alasan padamu” suaranya setajam tatapan matanya padaku.
“Alasan apa?”
“Gila, dua tahun kita tidak bertemu. Dua tahun kau pergi meninggalkan
aku. Dua tahun pula kau membuatku tersiksa karena menunggumu, tapi
sekarang saat kita bertemu kau bersikap seolah kau tidak melakukan
apa-apa padaku? Hebat sekali aktingmu Nichkhun Buck Horvejkul”
Selama ini aku tidak pernah melihat Victoria marah, tidak pernah
melihat tatapan matanya yang tajam, tidak pernah mendengar dia memanggil
nama panjangku. Tapi saat ini, aku seperti melihat dirinya yang lain.
Dan aku tahu semua itu karena apa dan karena siapa.
“Jika sebuah pelukan itu tidak akan menjadi sebuah dosa, aku ingin
sekali memelukmu sekarang Vic. Dan membisikkan di telingamu kalau
aku…sangat sangat merindukanmu”
“Kenapa kau diam, huh? Kau benar-benar terlihat seperti seorang
pengecut, Khun. Katakan sesuatu padaku sekarang, ke mana saja kau selama
ini? Dan kau harus mengatakan padaku, apa alasanmu meninggalkanku dua
tahun lalu?”
“Aku memang seorang pengecut, pengecut yang mencintai seorang
wanita yang ternyata dia adalah adik kandungku sendiri, Vic. Jika kau
tahu tentang hal ini, mungkinkah kau masih mengijinkan aku untuk terus
mencintaimu? Dan akankah kau masih akan tetap mencintaiku?”
“Nichkhun?” suaranya mulai meninggi, air mata mulai membasahi kedua matanya.
“Cepat katakan sesuatu, jangan membuatku gila”
“Maafkan aku, tapi aku harus pergi sekarang. Permisi” aku berlalu dari hadapannya.
“Nichkhun Buck Horvejkul, bagaimana mungkin kau bisa pergi begitu
saja seperti ini, huh? Sampai kapan kau akan membisu seperti itu? Berapa
lama lagi kau akan membuatku menunggumu? Sampai kapan kau akan
membuatku terluka seperti ini?” aku tahu dia masih berdiri di tempatnya,
dia meneriakiku tapi akhirnya suaranya semakin melemah. Dia menangis.
Dan aku menghentikan langkahku sekarang.
“Apakah sampai aku benar-benar gila? Atau sampai aku mati? Tolong beritahu aku”
“Maafkan aku, Vic. Benar-benar maaf, tapi ini sudah menjadi
janjiku pada appa sebelum dia meninggal 6 bulan lalu. Untuk tidak
memberitahu hal ini padamu, sampai kapanpun. Bahkan sampai aku mati, aku
tidak boleh mengatakan ini padamu”
“Kenapa kau diam, huh?” dia kembali berteriak.
“Lihat mataku” dia berdiri di hadapanku sekarang dan mengarahkan wajahku untuk melihatnya.
“Jika kau benar-benar tidak ingin mengatakannya padaku, aku tidak
akan memaksamu lagi. Tapi aku hanya ingin bertanya satu hal padamu,
apakah hingga detik ini kau masih mencintaiku?”
“……”
“Aku bertanya satu kali lagi, Khun. Apakah di hatimu sekarang, aku masih berarti bagimu?”
“Tuhan, kenapa kenyataan ini benar-benar menyesakkan? Apa yang
harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku jawab? Tentu aku masih
sangat mencintainya, tapi aku tahu cinta yang aku rasakan untuknya
sekarang adalah cinta yang terlarang. Kenapa kau harus mempertemukan aku
lagi dengannya? Jika seperti ini, lebih baik aku mati daripada harus
berada dalam keadaan seperti sekarang”
“Kau diam? Baiklah aku tahu, kau tidak perlu menjawab pertanyaanku
yang bodoh itu lagi. Maafkan aku, seharusnya aku tidak menanyakan hal
itu padamu. Aku pergi” dia membalikkan tubuhnya, dengan langkah yang
gontai dia pergi meninggalkan aku yang masih berdiri terpaku di
tempatku.
JEGERRRRRRR….
Dalam hitungan detik, aku melihat orang-orang berlarian menghampiri
sebuah mobil. Yang di mana ada tubuh seseorang sudah terkulai lemah 50
meter di depannya. Sebagian dari mereka mengerumuni tubuh seseorang itu.
Darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Aku melihatnya tepat 200 meter di
depan mataku. Aku masih berdiri di sini, di tempatku. Di tempatku saat
dia melangkah pergi meninggalkan aku.
Dan hujan sangat deras tiba-tiba turun. Dalam beberapa detik
kemudian, akhirnya aku bisa melihat dengan jelas orang itu. Karena
sekarang aku duduk tepat di sampingnya. Seseorang menaruh tubuhnya di
pangkuannya. Matanya beradu dengan mataku sekarang, dia menatapku sayu.
“Huj…jan. Kau lihat? Selama dua tahun ini, setiap kali hujan turun,
ak..ku selalu merindukanmu dan ak..ku selalu menunggumu kemb..bali.
Sekarang, kau benar-benar kembali. Aku bisa meli..hatmu lagi. Ta..pi
sebelum ak..ku mat..ti. Aku ingin mengata..kan ini padamu. Ak…ku
sang…ngat sangat mencintai…mu, Khun-ah. Ingat..lah itu, arasseo?”
suaranya terbata-bata dan yang terakhir aku lihat darinya, dia
tersenyum manis padaku. Sebelum akhirnya matanya tertutup, untuk
selamanya.
***
Aku akan menepati janjiku padamu, appa. Hingga aku mati, aku
tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Victoria kalau ternyata aku
dan dia adalah saudara kandung. Dia sudah bersamamu dan juga eomma sekarang, tunggulah aku. Sekarang, aku juga akan menyusul kalian.
Tuhan, maafkan aku karena aku melawan takdir-Mu. Aku menawar
kematianku lebih awal. Aku rasa tidak ada gunanya aku hidup, sementara
orang-orang yang aku cintai sudah berada di sisi-Mu sekarang. Tapi
bolehkah aku meminta sesuatu padamu? Hanya satu permintaan saja. Kelak,
di kehidupan mendatang, tolong jangan ciptakan aku sebagai kakak untuk
Victoria. Tapi ciptakan aku sebagai seorang pria yang akan mencintainya
dan menjaganya sebagai seorang wanita yang sesungguhnya. Hanya itu.
Dan untukmu, Vic. Aku tahu tanpa aku harus menjawab pertanyaanmu, kau
sudah tahu jawabannya. Dari mataku, aku yakin kau tahu kalau aku masih
sangat mencintaimu. Dan ya, aku sangat mencintaimu, sampai kapanpun.
Jika kelak kita bertemu di kehidupan mendatang dan kau tidak di ciptakan
sebagai saudara kandungku, aku akan selalu mencintaimu bahkan untuk
seribu tahun kemudian pun aku akan tetap mencintaimu.
~ END ~Labels: 2PM, f(x), Khuntoria, Nichkhun, Sequel, Victoria
Missing You In The Rain ON AT 21:27
Title : Missing You In The Rain
Author : cherry_blossom a.k.a r13eonnie
Main Cast : Nichkhun Buck Horvejkul & Victoria Song…KHUNTORIA FOREVER…
Genre : Sad Romance, Angst
Rating : PG-13
Type : Oneshoot
Lenght : 3270 Words
Disclaimer : PLOT AND STORY IS MINE…FF ke lima author yang Main castnya Khuntoria…
Big Thanks to Jisankey for Beautiful Poster..;)
.:NO SIDER..NO PLAGIATOR..NO BASHING :.
o.O.o.O.o.O.o.O.o
“Kau belum pulang?” dia berlari menghampiriku yang sedari tadi menunggu di Halte Bis.
“Belum, aku lupa membawa payungku hari ini” jawabku mengerucutkan bibir.
“Memang sampai kapan kau akan berdiam diri
di sini? Sampai hujannya reda? Kau bisa sampai rumah besok kalau kau
menunggu hujan reda” dia mengacak-ngacak rambutnya yang basah dan jujur
aku sempat terpesona melihatnya jika sedang kebasahan seperti itu. Ehm,
sedikit seksi, hehehe…;)
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Daritadi aku menunggu Bis tapi tidak ada satupun yang lewat” ujarku sendu.
“Hanya ada satu cara” dia menatapku penuh arti.
“Mwo?” aku membusungkan kepalaku ke arahnya.
“Ayo ikut denganku” tanpa memberi aba-aba dia menarik tanganku.
“Ya, Khunnie-ah, lepaskan tanganku.
kau sudah gila yah? Aku bisa sakit kalau terkena hujan” aku mencoba
menarik tanganku, tapi tenaganya lebih besar dariku dan aku hanya bisa
pasrah karena tubuhku sudah terlanjur basah kuyup sekarang.
“Siapa yang mengatakan itu? Kau tahu,
bermain hujan itu sangat menyenangkan” teriaknya padaku dengan tangannya
yang masih menggenggam tanganku erat. “Wuuuu….” dia mengajakku berlalri
sekarang di tengah hujan yang sangat deras.
Hari itu aku sedang menunggu Bis sepulang
kuliah, aku tidak bisa pulang karena terjebak hujan dan aku lupa membawa
payungku. Tiba-tiba dia menghampiriku dan menarik tanganku ke tengah
hujan yang sedang deras-derasnya mengguyur bumi. Ibuku selalu ketakutan
jika aku kehujanan, karena sejak kecil aku pasti sakit jika terkena
hujan sedikit saja. Tapi, hari itu aku baru tahu kalau bermain dengan
hujan itu ternyata memang sangat menyenangkan dan dialah yang sudah
mengajariku bagaimana cara menikamti hujan.
***
“Khunnie-ah, lihat langitnya sudah
mulai mendung. Sebentar lagi pasti akan turun hujan” teriakku padanya
yang sedang asyik bermain Basket di lapangan kampus kami.
“Memangnya kenapa?” dia menghentikkan men-Dribble bolanya dan menatap ke arahku sekarang.
“Aku akan membiarkan tubuhku terkena hujan sekarang”
“Hah? Sejak kapan kau menyukai hujan?” teriaknnya kembali melanjutkan dengan permainan Bsketnya.
“Sejak kau memberitahuku kalau bermain
dengan hujan itu sangat menyenangkan” aku menghampirinya. “Ahhh…hujannya
sudah turun. Ayo cepat kita bermain dengan hujan lagi” aku menarik
tangannya dan mengajaknya berputar-putar denganku di tengah lapangan.
Hujan kedua yang ku lewati bersamanya,
menyenangkan. Terlebih lagi, karena aku menikmatinya bersama orang yang
sangat ku cintai, Nichkhun Buck Horvejkul.
***
“Vic…” dia yang berjalan di belakangku saat kami pulang bersama menyusuri jalan setapak, memanggilku.
“Mwo?” dan aku menoleh ke arahnya.
Namun saat aku menoleh ternyata dia menyiprati wajahku dengan air hujan yang sudah ia bendung dengan kedua tangannya.
“Ah, ya Khunnie-ah, kau mau bermain denganku, huh? Baiklah kemari kau bodoh” teriakku mengejarnya yang sudah berlari dari hadapanku.
“Haha…ayo cepat kejar aku kalau kau bisa” tantangnya semakin mempercepat larinya.
“Tenang saja, aku sangat ahli dalam urusan
lari dan aku pasti bisa menangkapmu” aku mengerahkan seluruh tenagaku
untuk mengejar kecepatan larinya.
Itu hujan ketiga aku dan dia bermain di
tengah hujan dan saling kejar-kejaran. Tidak di sangka tenagaku ternyata
benar-benar kuat, aku bisa lari dengan kencang dan berhasil
menangkapnya. Dia juga cukup terkejut karena baru kali itu dia di
kalahkan oleh seorang wanita dalam urusan lari-larian.
***
“Khun-ah, ayo kita bermain gunting,
batu, kertas denganku. Siapa yang kalah maka dia harus menggendong
orang yang menang sampai ke rumah” ucapku menantangnya saat kami baru
keluar dari gerbang kampus, tentunya saat ini sedang turun hujan.
“Mwo?” dia terkejut mendengar tantanganku.
“Wae? Kau takut, huh?” aku mendelik tajam ke arahnya.
“Bukan takut bodoh, aku hanya tidak ingin
membiarkanmu menggendongku sampai ke rumah” dia menjitak pelan kepalaku.
“Kau tahu jarak dari sini sampai ke rumah kita itu masih sangat jauh, shirreoyo” dia menggeleng-geleng menolak.
“Errrr…jadi maksudmu kau sudah yakin kalau kau akan menang?”
“Geureomyeon” ucapnya penuh percaya diri.
“Tch…percaya diri sekali kau ini Tuan Buck.
Baiklah kalau begitu ayo kita buktikan saja” aku mendecak sebal.
“Gunting, batu, kertas” aku memulai memainkan permainan itu.
“Kau yakin akan kuat menggendongku sampai
rumah? Kau tahu, hari ini aku sudah makan 4x jadi berat badanku pasti
sudah naik 2 Kg, lalu kalau di tambah…” dia berceloteh tidak jelas dan
aku langsung menyela ucapannya.
“Aish, kau ini sudahlah aku tidak peduli
berat badanmu akan naik berapa Kg, ayo cepat kita mulai” aku mengambil
aba-aba untuk memulai lagi permainan itu. “Gunting, batu,
kertas…Gunting, batu, kertas…” ucapku semangat.
“Omo…omo…kenapa dadaku berdegup
kencang? Aku benar-benar takut kalau aku menang” ucapnya peraya diri
sembari memegangi dadanya, rasanya aku ingin sekali menjitak kepalanya.
“Ish…ayo cepat lagi”
“Gunting, batu, kertas” ucap kami bersamaan.
“Ooohh…eottheokhae?” dia menarik tangannya dan bergaya seolah merasa bersalah. “Sudah ku bilang pasti aku menang” dia memeluk tanganku manja.
“Ara…ara…ayo cepat naik ke sini, kau tahu aku ini adalah wanita yang kuat”
“Anhi…anhi, mana mungkin aku membiarkan gadisku menggendong tubuhku. Sini, biar aku saja yang menggendongmu”
“Sudah jangan banyak bicara, ayo cepat” aku membungkukkan tubuhku dan menarik tubuhnya untuk naik ke punggungku.
“Yayaya…” dia sempat meronta namun dengan cepat aku mengapit kakinya oleh kedua tanganku.
“Bagaimana? Tubuhku sangat berat, kan?” tanyanya saat tubuhnya sudah dengan nyamannya hinggap di punggungku.
“Anhio, malah tubuhmu sangat ringan. Ya Khun-ah, kau tidak boleh kurus”
“Mwo? Kau bilang badanku sebesar ini kurus?”
“Eum…ah sudahlah jangan banyak bicara” aku membenarkan posisi tubuhnya yang sedikit miring.
“Oh ya, kau tahu ini pertama kalinya aku di gendong oleh seorang wanita
“Benarkah?”
“Eum..ternyata kau lebih kuat dari yang ku bayangkan”
“Haha..maka dari itu kau jangan pernah meremehkan kemampuanku, hehe…” aku mengeluarkan evil smile-ku.
“Stop…stop…” teriaknya tiba-tiba saat perjalanan kami baru 300 meter jauhnya.
“Mwo? Waeyo?” Kita belum sampai rumah, sudah diam jangan banyak bergerak nanti kau jatuh”
“Aku bilang stop, aku mau turun” ucapnya lalu turun dari punggungku.
“Ya, ada apa?” bentakku.
“Sekarang giliranku yang menggendongmu” dia jongkok dan menarik tubuhku untuk naik ke punggungnya.
“Mwo? Hei…” aku belum sempat menolak tapi dia sudah berhasil membuat tubuhku berada di punggungnya sekarang.
“Hehehe..bukankah begini jauh lebih baik” dia terkekeh dan menahan tubuhku dengan kuat.
“Tch…” aku mendecak namun akhirnya aku melingkarkan kedua tanganku ke lehernya, nyaman juga, pikirku.
“Hmm..ternyata tubuhmu sangat ringan, aku kira kau akan berat”
“Hei, apa maksud dari ucapanmu itu, huh?” tanyaku sinis.
“Waeyo?” Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya mengatakan yang sebenarnya kalau tubuhmu memang ringan”
“Dalam waktu tiga hari ini, tubuhku naik 3 Kg. Mana mungkin aku bisa ringan”
“Sudahlah tidak peduli kau ringan atau berat
yang penting aku akan tetap mencintaimu” ucapannya barusan mampu
membuatku hampir meneteskan air mata karena terharu.
“Sekarang ayo kita pulaaaaang” ujarnya sambil berlari dengan tubuhku yang masih ada di atas punggungnya.
“Yaaaa, Khunnie-ah, hati-hati aku bisa jatuh bodoh” protesku memukul punggungnya cukup keras.
“Hehehehe…” si bodoh itu hanya tertawa tanpa dosa.
Hujan berikutnya, hujan yang paling indah
bagiku. Hari itu aku merasa aku semakin mencintainya. Yah, Nichkhun
benar-benar berhasil mencuri hatiku selama beberapa bulan terakhir ini.
Hari itu, rasanya aku ingin menghentikan waktu agar tidak berakhir dan
aku ingin mengulang dan mengulang lagi saat-saat aku melewati hujan
bersamanya karena yang aku rasakan saat ini adalah luka ketika hujan
selanjutnya menjadi hujan terakhir yang aku lewati bersamanya.
***
“Khun-ah, maaf aku terlambat” aku
mengecup pipinya saat kami janjian untuk bertemu di sebuah taman. “Tadi
jalanannya macet” sambungku lalu duduk di sebelahnya.
“Gwaenchanayo” jawabnya ringan.
“Khunnie-ah, waeyo?”
Kenapa mukamu tidak bersemangat seperti itu? Apa kau marah padaku karena
aku terlambat?” aku mengamati wajahnya yang sedikit pucat.
“Anhio, bukan karena itu sungguh aku tidak marah. Oh ya, hari ini kau mau ke mana? Biar aku menemanimu ke manapun kau mau pergi”
“Errr..ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba
berkata seperti itu? haha…kau ini seperti orang yang mau pergi jauh
saja” aku tertawa sambil menepuk-nepuk bahunya.
“Katakan saja kau mau ke mana, hari ini aku akan menjadi Nichkhun yang penurut” ujarnya memberi pijitan di lenganku.
“Omoo…hei apa kau sudah salah
makan? Ada apa denganmu hari ini? Kau aneh sekali” aku menatapnya
curiga. “Tunggu, apa kau sakit? Kau sakit apa? Katakan padaku” ucapku
tiba-tiba cemas dan mengamati wajahnya, takut kalau dia sedang sakit.
“Sudah ku bilang aku tidak apa-apa, ayo cepat katakan kau mau ke mana sebelum aku berubah pikiran”
“Eum…baiklah, kalau begitu aku ingin ke
Namsan Tower. Kemarin, aku melihat acara We Got Married dan pasangannya
pergi ke Namsan tower, hari ini aku juga ingin ke sana”
“Baiklah kalau begitu kita pergi ke sana sekarang” dia bangkit dan menarik tanganku.
“Tunggu, tapi aku ingin kita juga menulis pesan cinta untuk di taruh di pagarnya. Tapi kita tidak punya gemboknya, eottheokhae?”
“Yah, kalau begitu sekarang kita pergi membeli gemboknya setelah itu kita ke Namsan Tower”
“Ne…” jawabku semangat sambil mengayun-ngayunkan tanganku dengan tangannya yang saling bertaut.
***
“Kau tulis duluan” ujarnya padaku saat kami sudah berada di atap Namsan tower dan memegang kertas yang akan kami tulis.
“Kau saja yang tulis duluan” aku menyerahkan kertas itu padanya.
“Ladies first” dia menoyodorkannya kembali padaku.
“Errr..baiklah aku yang tulis duluan”
jawabku mulai menulis sesuatu di kertas itu dengan serius. “Selesaiii…”
aku mengangkat kertas itu setelah selesai menulisnya. “Lihat punyaku,
aku menulis “Pabo Nichkhun adalah milikku”, hehe…bagaimana, kau suka?” aku memiringkan kepalaku menatapnya.
“Yah, aku suka, gomawo” jawabnya
tersenyum tipis dan mengacak-ngacak rambutku. “Sekarang giliranku” dia
mengambil kertas itu dariku, dia menulisnya dengan sangat serius.
“Apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu. Oh so sweet….”
aku membaca apa yang di tulisnya di kertas itu dan aku memegang pipiku
yang panas karena merona. “Benarkah apa yang kau tulis ini? Apapun yang
terjadi kau akan selalu mencintaiku?” tanyaku memastikan.
“Eum…” dia mengangguk yakin.
“Baiklah aku percaya, kalau begitu aku ingin kau juga melakukan satu hal untukku”
“Apa?”
“Jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi, eoh?” aku menatapnya dalam.
Dia tidak menjawab, dia membisu sambil memandang mataku.
“Setelah ini kau mau ke mana lagi? Bagaimana
kalau kita naik kereta gantung?” ucapnya tiba-tiba bangkit mengalihkan
pembicaraan dan menenteng tas tanganku.
“Ya, Khunnie-ah kenapa kau tidak menjawab
pertanyaanku?” teriakku mengejar langkahnya namun dia seolah tidak
menghiraukan ucapanku tadi.
***
“Huaaa…sudah lama sekali kita tidak naik
ini, ternyata tidak banyak yang berubah sejak terakhir kita ke sini tiga
bulan yang lalu, iya kan?” tanyaku antusias saat kami sudah berada di
dalam kereta gantung.
“Eum, kau benar” jawabnya singkat dan memandang ke arah jendela.
“Ya, Khun-ah, kau ini sebenarnya
kenapa, huh? Apa kau ke sambat setan? Atau kau benar-benar salah makan
sesuatu? Kenapa hari ini kau tidak seperti biasanya? Dan dari tadi
mukamu itu masam sekali, kau juga belum tersenyum untukku” aku mendengus
kesal memalingkan pandanganku darinya.
“Aku tidak apa-apa, sungguh. Baiklah
sekarang aku akan tersenyum. Ayo cepat sini lihat aku” ucapnya menarik
wajahku untuk melihat ke arahnya.
“Shirreoyo” aku menolak dan memalingkan lagi wajahku.
“Vic, lihat” teriaknya tiba-tiba.
Dengan refleks aku menoleh ke
arahnya dan ternyata dia menaruh telunjuknya di pipiku, sehingaa saat
aku menoleh telunjuknya sedikit menusuk pipiku.
“Ya, kau kekanak-kanakkan sekali” bentakku cukup keras.
“Wae? Bukankah Victoriaku menyukai hal-hal yang kekanak-kanakkan?” jawabannya membuatku mati kutu.
“Oh ya setelah ini kau ingin ke mana lagi?’
“Aku lapar, aku ingin makan” jawabku memegangi perutku yang sudah mulai keroncongan.
“Baiklah, lalu kau ingin makan apa?”
“Samgyeopsal” jawabku semangat.
“Ara…ara, setelah ini kita makan Sampgyeopsal“
***
“Woaaa,,,lezatnya” ucapku antusias, sekarang
kami sudah berada di tempat makan dan beberapa Menu makanan yang kami
pesan sudah ada di hadapan kami dan tentunya Menu special kami adalah
Samgyeopsal karena itu adalah makanan kesukaan kami berdua.
“Selamat makan” ujar kami bersamaan siap menyantap makanan kami.
“Aaaa…” dia memberikan Samgyeopsal yang sudah dia siapkan untuk di suapi padaku dan aku langsung menerimanya dengan senang hati.
“Eum,,,,yummy” ucapku
menggoyang-goyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri dengan antusias,
itulah caraku mengekspresikan kesengananku jika menyantap makanan enak.
“Ternyata kau benar-benar sangat mencintai Samgyeopsal”
“Eum, tentu ini adalah makanan Korea
kesukaanku, hehe…” jawabku sambil menyiapkan Samgyeopsal yang akan aku
suapkan padanya. “Khun-ah, aaa…” ucapku memberikan Samgyeopsal di tanganku padanya.
“Beunar-beunar enhak, rhasanyah tida akkan
penah beubah” ucapnya sedikit tidak jelas karena mulutnya yang kepenuhan
dan aku terkekeh melihatnya.
***
“Aahhh..kenyangnya. Khun-ah,
sepertinya aku tidak akan sanggup lagi untuk bermain. Perutku sudah
kekenyangan, kau lihat perutku sudah semakin mengembang” ucapku
memegangi perutku yang semakin membuncit karena kenyang.
“Anhio, masih ada satu tempat lagi yang harus kita kunjungi”
“Eh?” aku mengernyit tidak mengerti.
“Kajja…” dia menarik tanganku cepat.
“Ya Khun-ah, kenapa ke sini? Apakah
kita mau pulang?” tanyaku bingung karena ternyata tempat yang di maksud
olehnya adalah Halte Bis yang biasa kami datangi setiap kali kami
menunggu Bis bersama setiap pulang kuliah. Dan Halte Bis itu adalah
saksi cinta kami karena awal pertemuan kami adalah di Halte Bis itu.
“Anhi, aku hanya ingin diam di sini saja sambil menunggu turun hujan” jawabnya santai lalu duduk di kursi Halte itu.
“Eh?? Jadi kau mengajakku ke si hanya untuk menunggu hujan?”
“Ne…” jawabnya menatap langit yang akan mulai berganti menjadi petang.
Tiga jam kami menunggu di Halte Bis itu
tanpa kata, yah kami berdiam di sana bukan untuk menunggu Bis tapi untuk
menunggu turun hujan, sangat aneh bukan? Tapi aku lebih merasakan
keanehan ketika kami tidak biasanya bisa duduk bersebelahan tanpa bicara
sepatah kata pun.
“Sepertinya hari ini tidak akan turun hujan,
sebaiknya kita pulang saja sudah malam” dia melirik jam tangannya
sekilas lalu bangkit.
“Khun-ah, katakan padaku yang
sebenarnya” ucapku tiba-tiba tanpa menatapnya. Entah apa yang merasuk ke
dalam tubuhku, sehingga membuatku merasakan ada sesuatu yang akan
terjadi setelah ini.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti”
“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi denganmu?” aku bangkit lalu menatapnya tajam.
“Hari ini kau seperti bukan Nichkhun yang
biasanya. Aku tahu kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?
Katakanlah, aku tidak akan marah”
Dia terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Opseo…aku tidak menyembuyikan sesuatu apapun darimu,sungguh”
“Benarkah?” aku mendekatkan wajahku ke
wajahnya untuk memastikan dari matanya dan sekarang mata kami hanya
berjarak satu centi meter. “Tapi matamu mengatakan yang sebaliknya, Mr.
Horvejkul” ucapku dingin masih menatap matanya dalam.
“Sudah malam, eomma-mu pasti mencarimu, kita pulang saja” dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menarik tanganku.
“Aku tidak akan pulang kalau kau belum mengatakannya padaku” aku menarik tanganku kasar dari genggamannya.
Dia terkejut dan sekarang gilirannya yang menatap mataku dalam.
“Apa kau benar-benar ingin aku mengatakannya padamu?” tanyanya serius.
“Ya, katakan saja” jawabku dingin.
“Apapun itu? Meskipun itu adalah sesuatu hal yang akan membuatmu terluka?”
Aku terhenyak, dadaku tiba-tiba terasa
sesak. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan di katakannya, tapi aku
merasa itu adalah sesuatu hal yang sangat serius dan bisa membuatku
rapuh.
“Ne…” sebisa mungkin aku menjawabnya dengan tegar.
“Sebaiknya hubungan kita sampai di sini saja” ucapnya ringan tanpa keraguan.
Aku memang belum pernah merasakan bagaimana
rasanya tersambar oleh petir, tapi ucapannya itu membuatku seperti di
sambar oleh petir yang sangat keras. Tubuhku hampir lunglai karena tidak
menyangka dengan apa yang dia ucapkan, tapi aku berusaha untuk tetap
bisa berdiri tegak di hadapannya.
“Tch, semudah itukah kau mengatakan hal itu?
Bahkan kau tidak terlihat sedih mengatakannya, apakah ini sudah kau
rencanakan jauh-jauh hari?” jawabku ketus.
“Ah, jadi hari ini kau mengajakku ke
tempat-tempat yang ingin aku kunjungi, makan Samgyeopsal bersama dan
datang ke tempat ini, karena kau ingin mengatakan semua ini padaku? Kau
benar-benar membuatku seperti orang bodoh, Nichkhun Buck”.
“Ya kau benar, aku sengaja melakukan semua
itu untuk megatakan semua ini padamu, puas?” ucapnya tajam tapi dengan
tatapan yang sangat lembut seperti biasanya. Membuatku hampir mati
kebingungan, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengannya? Aku yakin,
dia pasti memiliki alasan yang kuat untuk melakukan semua itu, tapi
apa??
“Baiklah, terserah kau saja. Mulai sekarang,
hubungan kita benar-benar berakhir. Kalau begitu, jika kita bertemu
anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita selama 6 bulan
ini. Aku akan melupakan semuanya, permisi” ucapku santai dan berlalu.
“Ah, aku lupa. Terima kasih untuk semuanya, kalau niatmu untuk
mendekatiku selama ini hanya karena kau ingin menyakitiku seperti ini,
selamat kau sudah berhasil Tuan Nichkhun, permisi” aku membungkuk untuk
yang terakhir kalinya sebelum aku benar-benar pergi dari hadapannya.
Hujan, saat aku melangkah beberapa langkah
darinya, hujan deras akhirnya turun. Dan hatiku yang seolah tidak bisa
merasakan apa-apa selain kesakitan yang teramat sangat, tetap
melanjutkan langkahku untuk pergi meninggalkannya di Halte Bis yang
penuh dengan kenangan itu. Jika aku tidak mengingat saat dia bisa dengan
santai mengatakan kata pisah padaku, mungkin aku sudah menjatuhkan
tubuhku ke jalan yang ku pijak saat ini. Tapi, aku tidak ingin terlihat
lemah di hadapannya. Biarlah semua kelemahanku ini, hanya aku yang tahu.
“Victoria tunggu…” samar-samar aku mendengarnya berteriak memanggil namaku tapi aku tidak ingin menghiraukannya.
“Bodoh, jangan menangis. Kau masih bisa
hidup tanpanya Victoria” gumamku menguatkan diriku sendiri dan mengusap
mataku yang basah, basah karena air mataku ternyata tidak bisa di
bendung lagi dan kini bercampur dengan air hujan yang semakin
membasahiku.
Dia yang ternyata sudah berada tepat di belakangku, tiba-tiba menarik tubuhku keras dan menjatuhkannya ke dalam pelukannya.
“Lepaskan…bukankah sekarang kita sudah tidak
punya hubungan apa-apa lagi? Kau sudah tidak punya hak lagi untuk
memelukku” aku mencoba untuk memberontak dan melepaskan pelukannya, tapi
entah kenapa tenagaku yang berkurang atau tenaganya yang sangat kuat
untuk menahanku dalam pelukannya, akhirnya aku tidak bisa berbuat
apa-apa selain diam dan pasrah di peluk olehnya.
“Sebentar saja, hanya sebentar saja aku
ingin melakukan ini padamu” bisiknya tepat di telingaku dan semakin
mengeratkan pelukannya.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain
membiarkannya terus memelukku. Dan bodohnya aku yang tidak bisa menahan
lagi air mataku, membuatku menangis di hadapannya untuk pertama kalinya.
“Aku terpaksa melakukan semua ini, aku harap
kau bisa mengerti keadaanku. Kau cukup percaya saja dengan apa yang aku
tulis saat di Namsan Tower tadi, aku akan selalu mencintaimu apapun
yang terjadi” dia melepaskan pelukannya dan mengatakan sesuatu yang
benar-benar membuatku tidak mengerti.
“Kau ini bicara apa? Aku benar-benar tidak mengerti”
“Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai sakit. Mulai sekarang kau jangan terkena hujan lagi, aku tidak mau kau jadi sakit”
Aku tidak menjawab, karena sungguh aku tidak
tahu apa yang harus aku katakan. Yang ada, aku ingin sekali memukul
kepalanya dengan keras agar dia mau mengatakan yang sebenarnya padaku.
“Aku pergi” dia mencium keningku lama,
kemudian menempelkan keningnya dengan keningku. Dan lagi-lagi bodohnya
aku, tidak berusaha untuk mengelak dan membiarkannya melakukan hal itu
padaku setelah apa yang di ucapkannya tadi membuat hatiku benar-benar
sakiiit.
Lalu dia pergi begitu saja tanpa
memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Langkahnya semakin menjauh
dan aku masih berdiri di tempatku dengan tubuhku yang mulai menggigil
karena kedinginan. Aneh, tidak biasanya aku menggigil seperti ini.
Setiap kali aku bermain hujan dengannya selama apapun itu, aku akan kuat
dan tidak akan menggigil, tapi kali ini tubuhku benar-benar menggigil.
“Khun-ah…Khunnie-ah…” aku
baru tersadar dari lamunanku dan aku melihat dia naik ke dalam Bis yang
melintas, aku berteriak memanggil namanya dan mengejar Bis itu dengan
tenaga yang masih tersisa . “Jangan pergiiii, kau harus mengatakan
padaku apa yang sebenarnya terjadi? Nappeun namja, kau tega meninggalkanku begitu saja seperti ini, huh? Kau pengecut Khunnie-ah,
kau pengecut. Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu jika kau
meninggalkanku tanpa alasan yang jelas seperti ini? Cepat turun, cepat
turun Khunnie-ah…” tubuhku semakin melemah dan akhirnya tubuhku
terkulai lemah dan jatuh ke aspal, dengan hujan yang masih mengguyur
tubuhku tanpa henti.
“Kajima Khun-ah, kajima…” ucapku lemah memandang Bis yang semakin menghilang dari pandanganku.
Itu adalah hujan terakhir yang ku lewati
bersamanya, hujan terakhir yang masih menyimpan misteri bagiku karena
sampai saat ini aku masih tidak tahu apa alasan sebenarnya dia
memutuskan untuk meninggalkanku. Satu tahun berlalu semenjak
kepergiannya di tengah hujan saat itu dan kini aku hanya bisa melewati
hujan sendirian, tidak ada lagi tawanya, tidak ada lagi senyumannya,
tidak ada lagi keceriaannya dan tidak ada lagi sosoknya yang akan selalu
berada di sisiku setiap kali turun hujan.
Khun-ah, jika saat itu adalah hujan
terakhir yang aku lewati bersamamu, mungkin aku akan menyadarinya lebih
awal ketika sikapmu yang lain dari biasanya. Karena kini, setiap hujan
turun aku hanya bisa menikmati kenangan-kenangan saat-saat bersamamu dan
itu membuatku semakin merindukanmu. Kau di mana? Aku mohon pulanglah,
aku merindukanmu dan sangat kehilanganmu
~ A moment lasts all of a second, but the Memory lives on Forever ~
END
Labels: 2PM, f(x), Khuntoria, Nichkhun, Oneshoot, Victoria