Regret ON Thursday, 14 February 2013 AT 01:12
Author : cherry_blossom
Main Cast :
- Kim Rae In ( OC )
- Kai / Kim Jong In ( EXO K )
Other Cast : Find it by yourself
Genre : Life, Angst, Friendship
Rating : G
Type : Ficlet
Lenght : 2207 Words
Disclaimer : Ini cerpen yg pernah author baca dan author angkat jadi FF, tapi ada beberapa yg author ubah kata” nya…
Credit poster to FBlue
Comment After Read
***
Rae In berjalan dengan penuh percaya diri
melewati lorong-lorong kelas yang pintunya tertutup. Semua murid sudah
berada di kelas mereka masing-masing, tidak dengan Rae In. Di depannya
berjalan Pak Ji Hoo wali kelas di kelas barunya nanti. Beliau akan
menemani Rae In menuju ke kelas barunya. Mereka berhenti di depan kelas
yang pintunya juga tertutup. Melihat sebuah papan bertuliskan XI.2 di
atas pintu, Rae In yakin kalau itulah kelas baru yang akan ia tempati
untuk waktu ke depan.
Pak Ji Hoo membuka pintu, suara gaduh dari
dalam kelas yang tadi terdengar sampai keluar, kini tiba-tiba hening
dalam sekejap. Semua kembali duduk ke tempat mereka masing-masing dan
menatap ke arah pintu.
“Ayo masuk” ajak Pak Ji Hoo untuk masuk ke dalam kelas.
Rae In tersenyum dan mengikuti langkah Pak
Ji Hoo tanpa ragu di belakangnya. Semua mata kini tertuju padanya dan
Rae In menyadarinya. Ia mengembangkan senyumannya untuk memberikan kesan
pertama yang baik.
“Selamat pagi anak-anak” salam Pak Ji Hoo meletakkan tas dan bukunya di atas meja dan Rae In berdiri di sampingnya.
“Pagi Seonsangnim” sahut semua
murid tidak kompak karena ada yang menjawabnya dengan baik tapi ada juga
yang menjawab dengan malas dan ada yang sengaja di panjangkan.
“Bapak akan mengumumkan sesuatu untuk kalian. Hari ini kita kedatangan teman baru di kelas ini”
“Teman baru stok lama yah Pak?” celetuk salah satu murid di barisan belakang.
Rae In meliriknya dan tersenyum, dia
mendapati seorang anak laki-laki hitam dan kurus di ujung sana. Rae In
jelas tahu, sebagai murid baru dia pasti akan di kerjai di awal
perkenalan dengan ejekan-ejekan iseng atau pertanyaan-pertanyaan yang
sama sekali tidak ada hubungan dengannya. Ayahnya yang bertugas sebagai
pejabat di Pemerintahan, seringkali di pindahtugaskan lain kota. Jadi,
itu membuat Rae In mau tidak mau harus sering berpindah-pindah sekolah.
Terhitung sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang, dia
sudah lima kali pindah Sekolah.
“Suruh memperkenalkan diri dong, Pak. Jangan
di suruh jadi pajangan gitu” cetus seorang anak perempuan berambut ikal
yang duduk di barisan paling depan.
“Kim Rae In, teman-temanmu ingin kamu memperkenalkan dirimu” ucap Pak Ji Hoo menatap Rae In.
“Ne..” Rae In mengangguk. “Selamat pagi semuanya, perkenalkan Kim Rae In imnida. Aku pindahan dari SMA Satu Bangsa”
“Satu Bangsa? Kalau dua bahasa ada?”
“Ko nama Sekolahnya kayak lirik lagu kebangsaan negara tetangga sih?”
“Kalau SMA satu, dua tiga ada ga?”
“Yang sekolah di sekolah kamu ada berapa ribu murid? Sampai-sampai satu bangsa gitu, ckckckck…”
Sambar seorang anak laki-laki. Rae In
menoleh ke arahnya, namun ia tiba-tiba terkejut. Bukan karena melihat
anak laki-laki yang menyambar tadi yang membuatnya terkejut, tapi karena
ia melihat sosok wajah yang sangat ia kenal yang duduk di belakang anak
laki-laki tadi. Wajah itu masih terekam jelas di ingatan Rae In, Rae In
pernah bersumpah dalam hatinya aklau ia tidak akan pernah memaafkan
orang itu kalau persoalan di antara mereka belum terselesaikan.
Hampir dua puluh menit Rae In berdiri di
depan kelas. Ia seperti patung yang sedang jadi bahan ejekan
teman-temannya. Namun Rae In tidak terlalu menanggapinya serius. Mata
Rae In hanya terus tertuju pada anak laki-laki itu yang seolah tidak
menghiraukan kehadirannya di depan sana dengan berpura-pura serius
membaca bukunya.
“Yang duduk di pojok sana siapa namanya?”
tanya Rae In pada teman sebangkunya, setelah akhirnya dia di persilahkan
duduk oleh Pak Ji Hoo.
Teman sebangku Rae In itu menoleh ke arah yang di tunjuk Rae In.
“Oh..dia? Namanya Kim Jong In. Lebih baik
kau jangan mencoba untuk bergaul dengannya. Dia anak laki-laki paling
aneh di Sekolah ini, sering sekali bolos, tidak pernah bayar uang SPP,
tidak mau di ajak bicara oleh siapapun, makannya tidak ada yang mau
sebangku dengannya”
“Tch..pantas saja, lagipula siapa yang akan sudi duduk sebangku dengan seorang pencopet” umpat Rae In dalam hatinya.
***
Seminggu sudah Rae In sekolah di sekolah
barunya, ia sudah mulai bsia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Park
Hyo Jin teman sebangkunya sering mengajak Rae In untuk istirahat
bersama.
“Kemana si anak aneh itu? Dua hari ini aku
tidak melihatnya” Rae In menyantap Mie di depannya saat istirahat
bersama di kantin dengan Hyo Jin.
“Molla…paling-paling dia bolos lagi, sudah
tidak ada yang mau memperdulikan keberadaannya. Lagipula dia ada di
kelaspun kami merasa dia tidak ada” jawab Hyo Jin ketus.
Keinginan Rae In untuk menghampiri Jong In
sudah membuncah, tatkala ia melihat Jong In hari ini akhirnya sudah
masuk kembali dan sekarang dia sedang duduk di taman sekolah saat
istirahat.
“Masih ingataku?” tanya Rae In tanpa basa-basi.
“….” Jong In tidak menjawab, sibuk membaca buku yang di pegangnya.
“Namaku Kim Rae In” Rae In menekankan nada bicaranya.
“Aku tahu, bukankah kau yang memperkenalkan dirimu di depan kelas saat kau pertama masuk?” jawab Jong In tanpa menoleh.
“Bukan itu maksudku, tapi apa kau ingat
kalau kita pernah bertemu sebelumnya di Stasiun Dongdaegu? Tepatnya tiga
minggu yang lalu?” suara Rae In meninggi.
“Mungkin saja, stasiun itu tempat umum sudah pasti akan banyak orang yang kau temui, bukan aku saja”
“Tapi bukan itu masalahnya, kau? Kau orang yang sudah mencuri hapeku, kan?” Rae In mulai emosi.
“……” Jong In tidak menjawab, ia membuka halaman berikutnya dari buku yang sedang di bacanya.
“Jangan mengelak lagi, aku yakin sekali kau orangnya” Rae In merebut buku yang sedang di baca Jong In itu.
“Lantas apa maumu?” tanya Jong In menatap Rae In dingin.
“Tentu kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu”
Jong In bangkit dari duduknya dan menatap Rae In lekat, Rae In terkejut dan ia mundur selangkah menjauhi Jong In.
“Memang berapa sih harga hapemu itu? Kau
pasti bisa membelinya lagi, kan? Uang orangtuamu banyak, kau bsia
meminta lagi pada mereka. Dasar orang kaya jaman sekarang begitu pelit”
Jong In merebut kembali bukunya dari Rae In.
“MWO? Dia bilang apa? Tch….mudah sekali dia bicara, dia yang mencuri kenapa malah dia yang emosi? Nappeun namja….” umpat Rae In kesal di tempatnya.
“Yak…chakkaman….” teriak Rae In memanggil Jong In.
Jong In tidak menoleh, dia bergegas masuk ke
dalam kelasnya. Rae In berniat untuk mengejar, tapi Hyo Jin
menghadangnya mengajaknya untuk ke kantin.
***
Pukul dua siang, sekolah sudah bubar
sedaritadi. Rae In masih berdiri di depan Halte Bis, matahari yang terik
menyoroti tubuh mungilnya dengan ganasnya, membuatnya berkeringat. Ia
sudah merasa tidak nyaman dengan pakaiannya yang terasa basah dan
lengket. Rae In menoleh ke arah kanan, tidak ada satupun Bis yang
melintas, jalanan siang itu pun sudah sangat sepi. Hanya beberapa mobil
yang terlihat berlalu lalang di sana.
Empat puluh menit kemudian, Rae In
memutuskan untuk naik kereta di Stasiun Dongdaegu. Meskipun dia harus
naik Bis lagi setelah sampai di Stasiun berikutnya, tapi itu pilihan
terbaik di banding dia harus rela tubuhnya terpanggang di sana.
Rae In lega akhirnya ia tidak terlambat
untuk naik kereta terakhir ke Busan. Ia melihat bangku kosong yang bisa
ia duduki, namun ia terkejut ketika matanya melihat seseorang yang
selalu membuat emosinya naik dalam seketika.
“Ternyata dunia benar-benar sempit yah? Aku
bisa bertemu denganmu lagi di sini” Rae In duduk di samping orang itu.
Di amatinya orang itu, di pangkuannya ada kardus yang di potong setengah
dan beberapa botol minuman.
“Untuk apa lihat-lihat?”
“Bagus juga topeng kamu, pura-pura jualan
minuman di dalam kereta ternyata itu hanya sampinganmu saja. Pekerjaanmu
yang sebenarnya adalah mencopet” Rae In mendelik tajam.
“Jaga ucapanmu” jawab Jong In pelan dan
wajahnya memucat dalam seketika karena beberapa dari penumpang melirik
ke arahnya dengan tatapan curiga.
“Aku salah satu korabnmu” suara Rae In meninggi.
Jong In terdiam, beberapa penumpang yang
lain kini ikut menatap ke arah Jong In. Bahkan Ibu paruh baya yang duduk
di sebelah Jong In pun kini memegang erat tasnya.
“Puas kau membuatku malu di depan umum?” umpat Jong In setelah mereka turun di Stasiun berikutnya.
“Masih punta urat malu juga? Aku kira pencuri seperti kamu tidak akan pernah punya urat malu” cibir Rae In.
Jong In berlalu meninggalkan Rae In yang belum puas memakinya.
“Yak..tunggu, aku belum selesai bicara” Rae In mengejar Jong In yang mempercepat langkahnya.
Jong In tdiak menghiraukan Rae In yang sudah berdiri di sampingnya.
“Kembalikan Hapeku dulu” Rae In menengadahkan tangannya.
“Sudah ku jual” jawab Jong In singkat.
“Tch..enteng sekali kau bicara?” Rae In mendecak.
Emosinya memuncak melihat sikap Jong In yang tanpa dosa seperti itu.
“Baiklah, akan aku beri pelajaran kau” umpat Rae In dalam hatinya.
“Tolooooooong ada copeeet!!!! Toloooong….” teriak Rae In histeris.
“Yak….apa yang kau lakukan?” Jong In menatap Rae In kalut.”Aku bisa mati” Jong In mulai ketakutan dan pergi meninggalkan Rae In.
“Mana pencopetnya?” tanya seorang pria bertubuh kekar pada Rae In.
“Itu…pria yang memakai baju kotak-kotak biru itu, yang menjual minuman” Rae In menunjuk Jong In yang sedikit berlari.
“Kurang ajar, masih bocah sudah berani mencuri”
“Ayo kejar dan tangkap dia”
Suasana tiba-tiba menjadi gaduh dan riuh,
beberapa orang mengejar Jong In dan sekarang mengelilinginya saat Jong
In sudah tertangkap.
“Mau lari ke mana kau bocah tengik?” ucap salah seorang pria hitam pada Jong In yang berdiri panik.
“Sudah, jangan tunggu lagi. Hajar saja bocah ini”
“Benar, habisi saja dia. Pencuri seperti dia tidak boleh di biarkan hidup”
“Ampun…ampun, saya bukan pencopet. Dia hanya bercanda” Jong In berusaha berontak dari kerumunan.
Di tempat lain, Rae In tersenyum puas melihatnya.
“Rasakan pembalasanku, Kim Jong In” bisiknya
dalam hati dan berlalu meninggalkan Jong In yang di hajar tanpa ampun
oleh orang-orang itu.
***
Pukul tujuh lewat lima belas menit, Rae In
masuk ke dalam kelasnya dengan langkah semangat. Semua bangku sudah
terisi dengan para murid, tapi suasana terasa sangat hening tidak
seperti biasanya.
“Hyo Jin-ah, waegurae?” tanya Rae In pada Hyo Jin dan meletakkan tasnya di meja.
“Jong In meninggal”
Rae In terlonjak dari tempat duduknya.
“Tidak mungkin, kau pasti sedang bercanda, kan?” tanya Rae In tidak percaya.
“Anhi Rae In-ah, ini benar. Kemarin sore dia meninggal di hajar massa karena ketahuan mencopet” ucap Hyo Jin sendu.
“Kasihan dia, meskipun aku tidak
menyukainya, tapi aku juga sedih jika dia harus mati dengan cara seperti
itu. Betapa tidak adilnya hidup pada zaman sekarang, pencopet ketahuan
bisa di hajar sampai mati. Tapi para koruptor ketahuan mencuri uang
rakyat bertriliunan, masih bisa tertawa-tawa di depan Camera” rutuk Hyo Jin kesal.
Rae In terdiam, ia terhenyak di bangkunya.
***
“Kami ini memang orang miskin, tapi bibi
tidak percaya jika Jong In sampai mencopet” isak Ibu Jong In di rumahnya
bercerita pada Rae In.
Ibu paruh baya dan kurus itu, kembali
menyeka air matanya yang membasahi pipinya. Di sampingnya duduk ketiga
anaknya yang lain yang masih sangat kecil. Wajah ketiga anak itu begitu
memelas.
“Sekitar tiga minggu yang lalu dia memang
sempat membawa uang banyak dan bibi sempat bertanya padanya, tapi ia
hanya mengatakan kalau ia mendapatkan uang itu dari temannya yang
meminjamkan padanya. Dia terpaksa meminjam uang itu untuk berobat
adiknya yang sakit” Ibu Jong In memeluk anaknya yang paling kecil,
Rae In tertunduk dalam, ia yakin kalau uang
itu pasti hasil dari hapenya yang di jual Jong In. Andai saat itu Jong
In berterus terang padanya, Rae In pasti akan merelakan hapenya dan
tidak akan memperpanjang masalah itu.
Ibu Jong In menghela nafas panjang.
“Ayah Jong In meninggal sekitar empat tahun
yang lalu, semenjak itu Jong In lah yang menjadi tulang punggung
keluarga ini. Dia juga membantu biaya sekolah adik-adiknya dengan
berjualan minuman di lampu merah dan Kereta Api, sehingga dia sering
bolos sekolah dan ia sendiri tidak pernah membayar uang SPP nya. Jong In
pernah mengatakan kalau dia tidak ingin sekolah lagi, dia ingin bekerja
saja agar bisa mendapatkan uang banyak, tapi bibi melarangnya karena
sekolahnya juga penting baginya. Siapa sangka ternyata sekarang dia….”
tangis Ibu Jong In kembali memecah.
Diam-diam, Rae In menyeka air bening di
kedua ujung matanya. Ia sadar, karena dirinyalah Jong In pergi. Mungkin
jika saat itu ia tidak meneriaki Jong In sebagai pencuri, hal ini pasti
tidak akan terjadi. Dan Jong In masih mempunyai kesempatan untuk
membiayai hidup Ibu dan ketiga adiknya. Lalu, apa yang harus ia lakukan
sekarang jika hanya penyesalan yang tertinggal.
“Jong In-ah, mianhaeyo…cheongmal
minahaeyo. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin memutar waktu
kembali pada saat aku membuatmu pergi saat itu. Aku tidak akan melakukan
hal bodoh itu dan sekarang aku pasti tidak akan merasa menyesal karena
sudah membuatmu pergi” sesal Rae In dalam hatinya.
Di sampingnya Hyo Jin pun tertunduk dalam,
jika ia tahu sejak awal bagaimana kehidupan Jong In sebenarnya, mungkin
selama ini dia tidak akan membenci Jong In dan bersikap acuh padanya.
Hyo Jin juga menyesal, mengenang saat ia pernah memaki-maki Jong In yang
tidak mau menyumbang uang untuk memberi kado untuk Pak Ji Hoo saat
Ulang Tahunnya. Saat itu Hyo Jin mengatai Jong In pelit dan aneh, tapi
Jong In hanya terdiam dan menunduk.
Senja telah hadir, menggantikan terik yang
selesai melaksanakan tugasnya seharian. Rae In dan Hyo Jin meninggalkan
sebuah rumah kontrakan sederhana itu dengan langkah penuh sesal. Biarlah
rahasia penyebab kematian Jong In hanya dia dan Tuhan yang tahu dan dia
tidak akan pernah mengatakannya pada siapapun. Satu hal yang akan ia
lakukan untuk menebus penyesalannya itu, ia siap menjadi pengganti Jong
In untuk menjadi tulang punggung bagi keluarga Jong In yang telah di
tinggalkannya.
~ End ~
Author’s Note : Waktu
author baca ini cerpen, langsung ngena banget. Karena ini satu dari
contoh beberapa kejadian yang emang ada di kehidupan nyata. Sering
banget kejadian, pencopet atau pencuri yang cuma nyuri ayahm, nyuri
cokelat atau apalah yang sepele, tapi bisa di bakar, di hajar abis”
an,atau di penjara bertahun-tahun, padahal sebagian dari mereka punya
alasan mulia di balik itu. Tapi para koruptor yang udah makan uang
rakyat ampe triliunan rupiah, masih bisa berkeliaran bebas, bahkan di
penjara juga kadang di kasih fasilitas mewah,,,bener” miris hukum yang
ada di negara tercinta kita ini…Maaf author bukan mau menyinggung pihak”
tertentu atau menghakimi kesalahan orang, tapi ada baiknya kita sebagai
generasi muda bisa lebih peduli lagi terhadap apa yg terjadi di
sekeliling kita, jangan punya sikap terlalu acuh, pdhal tanpa kita
sadari msh bnyak org” yg lebih susah n lbh butuh bntuan kita…Ini ckup jd
pelajaran az dlm menilai seseorang bwt kita, bwt author sndiri jg, biar
gx memandang seseorang cm dr covernya az, krn cover buruk blm tntu
isinya buruk jg, dan sebaliknya...Labels: EXO K, Ficlet, Kai, OC