[SONGFIC] Please, Come Back to Me ON Wednesday, 13 February 2013 AT 06:44
Author : cherry blossom a.k.a r13eonnie
Main Cast : Han Taelin, Lee Donghae
Genre : Angst, Sad Romance
Rating : PG-13
Type : Songfic
Lenght : 1503 Words
A/N : ini FF author ambil dari kisah nyata yang di
alamin sama temen sodaranya author,,,kejadian yg di alami si cowo,
sekitar satu taun yg lalu, tepatnya puasa taun lalu…author angkat jadi
FF karena lagi” ada pelajaran yg bs d ambilnya…Oh ya author saranin,
baca ff ini smbil dgr lagunya jg..psti ngena bgt…
Backsound : Terry – Kembalilah
Credit poster to mekeyworld
Happy Reading
***
Aku di sini menunggumu
Masih setia mencintai
Meskipun kini aku tak tahu, aku tak tahu Engkau di mana
Di sini aku merindukanmu….
Han Taelin melirik ponselnya lagi, sudah pukul sebelas lebih tiga
puluh dua menit. Satu jam sudah ia menunggu kekasihnya Lee Donghae di
depan rumahnya. Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang,
menerpa tubuh gadis itu dengan manja.
“Kau ke mana Lee Donghae?” umpat Taelin bergidik karena kedinginan.
“Lima menit lagi kau tidak datang, mati kau”
Tujuh menit lewat sepuluh detik, sebuah mobil Jazz merah berhenti di depan rumah Taelin.
“Sayang, maaf aku terlambat”
Taelin tidak menghiraukan Donghae yang sekarang sudah berdiri di depannya.
“Sayang, tadi ada kecelakaan di jalan, jadi jalanan macet”
Donghae bersujud di hadapan kekasihnya yang sudah ia pacari selama tiga tahun yang lalu itu.
“Malam-malam begini, mana mungkin bisa macet? Yang ada jalanan pasti
sudah sepi, kan? Sudahlah kau jangan mencari alasan, alasanmu itu
sungguh tidak logis” Taelin bangkit dan berniat untuk masuk ke dalam
rumahnya.
“Sayang, tapi aku tidak bohong. Tadi di jalan benar-benar macet” Donghae menghadang langkah Taelin.
Taelin menatap Donghae sakratis.
“Benar kau tidak bohong?”
“Ne… aku bahkan berani bersumpah” Donghae mengangkat telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.
“Baiklah aku percaya padamu. Kalau begitu ayo kita pergi sekarang” Taelin menarik tangan Donghae.
“Sayang, bagaimana kalau kita perginya besok saja? Ini sudah malam,
lagipula aku ngantuk, aku ingin istirahat dulu sebentar, boleh?” wajah
Donghae memelas.
“Andwae..kita harus pergi sekarang juga, kau tahu nenekku
sedang kritis di Busan. Bagaimana mungkin kita menunggu sampai besok
kalau ternyata besok kita bahkan tidak bisa menemuinya lagi?” amarah
Taelin keluar dan itu tidak membuat Donghae merasa tidak aneh lagi.
Hal itu sudah biasa terjadi, jika Taelin sudah memiliki keinginan,
maka harus di penuhi saat itu juga. Jika tidak, maka dia akan
marah-marah hingga keinginannya itu terpenuhi.
Meskipun begitu, Donghae sangat mencintai gadis itu. Gadis yang
selalu membuatnya merindukan gadis itu jika tidak melihatnya, gadis yang
selalu membuatnya merindukan tingkah manjanya dan yang terpenting,
Taelin adalah gadis yang pernah membantu pengobatan Ibu Donghae yang
sedang sakit dan menyelamatkannya dari maut.
“Baiklah kita pergi sekarang, kajja...” suara Donghae terdengar lemah.
“Sayang tambah lagi kecepatannya, kita harus cepat-cepat sampai di sana” perintah Taelin saat Donghae sudah melajukan mobilnya.
“Sayang, tadi kan aku sudah bilang kalau aku sedikit ngantuk. Aku
takut kalau aku melajukan dalam kecepatan tinggi, nanti malah terjadi
sesuatu dengan kita?” suara Donghae selembut mungkin.
“Aku tidak perduli, pokoknya cepat tambah lagi kecepatannya”
Tidak ada yang bisa Donghae lakukan, selain menuruti ucapan kekasih
yang sangat di cintainya itu. Donghae menambah kecepatan laju mobilnya
menjadi 140 Km/jam. Untunglah jalanan saat itu sudah mulai sepi. Jadi,
Donghae tidak perlu menyusul mobil-mobil yang ada di depannya.
“Hoaaaamm, aku ngantuk. Aku mau tidur dulu, kalau sudah sampai
bangunkan aku” Taelin menyandarkan tubuhnya ke pintu dan menekukkan
kedua kakinya di kursi.
Donghae menguap untuk yang ke sekian kalinya, ia melirik Taelin yang
sudah tertidur lelap di sampingnya. Tubuh mungilnya meringkuk, Donghae
tidak tega melihatnya. Dengan sebelah tangannya, ia mengambil selimut di
jok tengah dan memakaikannya pada tubuh Taelin.
Taelin terhenyak dengan mata yang masih terpejam. Donghae
mengerjapkan matanya dan menguap panjang. Matanya sudah tidak bisa di
ajak kompromi lagi. Ingin sekali rasanya ia mengistirahatkan matanya itu
meski untuk sekejap.
Ia mencoba mencerahkan matanya, namun ia tidak kuat lagi. Tanpa ia
sadari matanya terpejam dalam sepersekian detik dan bersamaan dengan
itu, mobil yang di kemudikannya sudah menabrak sebuah rumah kosong
hingga hancur.
***
Hanya suara isak tangis dan detikkan dari
monitor jantung yang terdengar dari kamar itu. Sudah dua hari tubuh
gadis itu terbaring lemah tak berdaya di kasurnya.
Banyak luka goresan di tangannya, kaki kanannya di perban dan selang infus hinggap di hidung mancungnya.
“Taelin-ah, bangunlah nak” seorang Ibu
berusia sekitar tiga puluh tahun duduk dengan setia di samping putrinya
yang belum juga membuka matanya.
“Sabar bu, nanti juga dia pasti bangun”
tangan dari seorang pria yang tubuhnya lebih tinggi itu, meremas pelan
pundak sang Ibu yang tak lain adalah Istrinya.
“Dong…hae-ah…” terdengar suara lirih dari Taelin.
Jari-jarinya bergerak ragu.
“Dong…hae…” ulangnya menyebut nama seseorang.
“Taelin-ah, kau sudah sadar, nak?” Ibu Taelin menghampiri putrinya itu.
Air matanya masih mengalir namun senyum
kecil tersungging juga dari bibirnya, tatkala ia senang melihat Taelin
akhirnya sudah siuman.
“Eom…ma…” Taelin membuka matanya perlahan dan memanggil Ibunya ketika orang yang pertama kali ia lihat adalah Ibunya.
“Iya, nak ini eomma” Ibu Taelin menyeka air matanya cepat.
“Ap…pa…” Taelin mengalihkan pandangannya ke orang yang berdiri di samping Ibunya.
“Eum…Taelin-ah” Ayahnya tersenyum simpul.
“Mana Donghae?”
Mendengar pertanyaan putrinya itu, membuat Ibu dan Ayahnya terdiam seribu bahasa.
“Eom..ma, mana Lee Dong..hae??” suara Taelin masih sangat lemah.
“Dia ada di kamar sebelah, nak”
“Lalu bagaimana keadaannya?”
“Dia…dia baik-baik saja” suara Ibu Taelin terdengar berat.
“Benarkah? Aku ingin melihatnya, eomma”
“Andwae…” jawab Ibu Taelin cepat.
“Eum..maksud eomma, kau masih sangat lemah, nak. Nanti saja kau
melihatnya kalau kau sudah baikan, eoh?”
“Tapi benar dia tidak apa-apa, kan?” tanya Taelin cemas.
Ibu Taelin tidak menjawab.
“Oh ya, ini kau minum dulu. Selama kau tidak
sadarkan diri, kau tidak minum sedikitpun, kan” Ibu Taelin menyodorkan
segelas air putih untuk putrinya demi menghindari pertanyaan-pertanyaan
dari Taelin yang tidak bisa di jawabnya.
***
Ke mana harus aku mencarimu
Tak pernah ada kabar darimu
Tega hatimu meninggalkan aku
Tanpa kejelasan darimu
Masihkah engkau mencintaiku, menyayangiku….
Taelin membuka selang infus yang menempel di
tangannya, ia meringis sedikit merasakan perihnya. Ia turun dari
kasurnya, ia merasa jenuh di kurung di kamar itu terus. Ia mencemaskan
Donghae, perasaan ingin menemui kekasihnya itu sudah membuncah.
Untunglah Ibu dan Ayahnya sedang tidak ada,
ini kesempatan emas baginya untuk bisa melihat keadaan Donghae di kamar
sebelah. Dengan langkah terseok, ia keluar dari kamarnya.
Taelin mengedarkan pandangannya, kamarnya
ternyata berada di paling ujung. Jadi Taelin yakin kalau kamar Donghae
di rawat, pasti kamar yang berada tepat di sebelah kiri kamarnya. Dengan
sedikit senyuman di bibir tipisnya, ia mendekati pintu kamar itu.
“Donghae-ah…” Taelin berhasil membuka pintu kamar itu.
Matanya menyipit ketika orang yang ia lihat
di dalam kamar itu bukan orang yang ia kenal, bukan kakak Donghae
ataupun Ibunya. Dan orang yang terbaring di kasur itupun bukan Donghae
kekasihnya.
“Maaf, kau cari siapa?” tanya seorang wanita bertubuh jangkung yang berdiri di samping pria yang terbaring di kasur itu.
“Oh,,maaf sepertinya aku salah masuk kamar.
Permisi” Taelin membungkuk meminta maaf. “Eum…maaf, tapi apa aku boleh
bertanya sesuatu?” Taelin yang berniat keluar dari kamar itu, akhirnya
membalikkan lagi tubuhnya.
“Yah, silahkan. Kau mau bertanya apa?” tanya wanita itu ramah.
“Apakah sebelum kekasihmu di rawat di kamar
ini, ada pasien lain yang juga di rawat di kamar ini? Kira-kira lima
hari yang lalu?”
“Lima hari yang lalu? Tapi adikku ini di
rawat di sini sudah seminggu yang lalu” jawab wanita itu yang ternyata
kakak dari pria yang di rawat di sana.
“Benarkah? Tapi itu tidak mungkin, kata
eommaku, kekasihku itu….” suara Taelin melemah, tubuhnya yang masih
belum pulih seratus persen itu pun terkulai lemah di lantai.
***
“Eomma, ke mana sebenarnya Donghaeku? Kenapa eomma berbohong padaku kalau dia ada di kamar sebelah? Tadi aku ke sana eomma,
tapi dia tidak ada di sana. Ke mana sebenarnya dia? Aku mohon jangan
bohong padaku lagi, aku mohon” tangis Taelin memecah saat ia tersadar
setelah tadi ia jatuh pingsan di kamar sebelah.
Ibu Taelin tidak mampu menjawab, hanya bisa menangis dan tertunduk dalam.
“Eomma….aku mohon, katakan di mana Donghaeku” Taelin mengguncang-guncangkan tubuh Ibunya lemah.
“Mianhae Taelinn-ah, mianhae….” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ibunya yang bergetar.
Kembalilah kepadaku dan janganlah pergi lagi
Ku tak sanggup jalani hidup tanpamu
Seandainya engkau tahu, sekian lama ku menunggu
Kehadiranmu kembali, kekasihku….
Taelin pergi ke sebuah padang Dandelion yang
dulu sering ia datangi bersama Donghae. Ia menyusurinya dengan langkah
terseok, sesekali ia memejamkan matanya, mencoba untuk merasakan
kehadiran Donghae di sana. Namun, hanya semilir angin yang ia rasakan
yang menyapa tubuhnya lembut.
Satu tahun sudah Taelin menunggu Donghae
kembali semenjak kecelakaan itu. Taelin tidak tahu keberadaan Donghae
saat ini di mana, Ibunya pernah mengatakan kalau Donghae di bawa pergi
oleh Ibu dan kakaknya. Dan Ibunya tidak tahu Donghae di bawa ke mana.
Terlintas penyesalan di benaknya, seandainya dulu dia tidak menyuruhnya
melajukan mobil itu dalam kecepatan tinggi, seandainya dia mendengarkan
keluhan Donghae yang ingin istirahat sejenak dan seandainya malam itu ia
tidak tidur dan menemani Donghae menyetir, mungkin kecelakaan itu tidak
akan terjadi. Dan dia tidak harus kehilangan Donghae saat ini.
“Donghae-ah, di mana kau sekarang? Aku
mohon kembalilah, maafkan aku. Aku janji aku akan mendengarkan semua
ucapanmu, aku akan lebih mendengarkan keluhanmu dan aku tidak akan
marah-marah lagi padamu, tapi aku mohon kembalilah, jangan tinggalkan
aku seperti ini. Aku merindukanmu Lee Donghae, sangat sangat dan sangat
merindukanmu” Taelin memeluk boneka pemberian dari Donghae saat Ulang Tahunnya setahun yang lalu, satu bulan sebelum kecelekaan itu terjadi.
~ END ~
Labels: Donghae, OC, Songfic, Super Junior, True Story